Berbagi cerita seputar dunia sepeda
Menampilkan 9 dari total 63 post
Bagi banyak goweser, sepeda lipat (seli) alias folding bike sering dianggap hanya untuk santai atau komuting jarak pendek. Namun, Birdy mematahkan stigma tersebut. Didesain oleh duet desainer Jerman, Riese & Müller, Birdy hadir dengan satu fitur utama yang jarang dimiliki seli lain: Full Suspension dalam paket yang sangat ringan. Mengapa Birdy Berbeda? Source: https://www.birdybicycle.com/ Rahasia utama Birdy terletak pada desain main frame yang kaku tanpa engsel di tengah. Tidak seperti Brompton atau seli konvensional yang membelah rangka jadi dua, Birdy melipat melalui titik pivot suspensi depan dan belakangnya. Keuntungannya? Rangka jadi jauh lebih kaku (stiff), minim bunyi beritit (creaking), dan transfer tenaga dari pedal ke roda jadi jauh lebih efisien. Teknologi Suspensi yang Ikonik Leading Link Front Suspension: Garpu depan Birdy menggunakan sistem leading link yang meredam getaran jalan dengan sangat halus tanpa membuat sepeda terasa "mentul-mentul" saat dipacu kencang. Elastomer Rear Suspension: Di bagian belakang, terdapat blok elastomer yang berfungsi menyerap shock dari lubang atau jalanan tidak rata. Hasilnya? Kamu bisa gowes lebih lama tanpa merasa cepat pegal. Varian Birdy yang Wajib Kamu Tahu di 2026 Untuk pembaca MauGowes, berikut adalah rangkuman model Birdy yang paling relevan: Birdy R20 (Racing): Menggunakan ban 20 inci dan groupset Shimano 105 (11-speed). Ini adalah seri terkencang untuk kamu yang hobi ngebut di aspal. Birdy Gravel: Dilengkapi ban yang lebih lebar dan bergerigi (18 inci) serta groupset 10-speed. Sangat cocok untuk kamu yang ingin gowes ke jalur makadam atau jalanan rusak di sekitar Indonesia. Birdy Rohloff: "The Holy Grail" dari Birdy. Menggunakan hub internal Rohloff 14-speed yang sangat low maintenance dan kuat. Birdy City: Varian standar yang paling pas untuk penggunaan harian di perkotaan dengan groupset 9-speed yang simpel. Birdy JK11 Series: Hasil kolaborasi dengan Joseph Kuosac, menggunakan wheelset karbon untuk bobot yang sangat ringan dan tampilan super mewah. Kesimpulan: Apakah Worth It? Dengan harga yang berkisar antara Rp25 juta hingga Rp60 juta-an (tergantung spesifikasi), Birdy memang investasi yang cukup besar. Namun, jika kamu mencari satu sepeda yang bisa dilipat masuk ke bagasi mobil tapi punya rasa berkendara sekelas road bike atau hardtail MTB, Birdy adalah jawabannya. Ref: https://www.birdybicycle.com/
7 hari yang lalu
176 views
Pernah membayangkan gowes bareng rombongan tapi tetap bisa ngobrol tanpa harus teriak-teriak atau menoleh ke belakang? Lazer baru saja merilis solusi jenius bernama Lazer VeloVox. Bukan sebuah helm baru, VeloVox adalah sistem komunikasi audio open-ear yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan keseruan gowes bareng. Desain Open-Ear: Aman & Legal Source lazersport.com Berbeda dengan earbuds yang menyumbat telinga, VeloVox menggunakan desain open-ear yang menempel pada tali helm (helmet strap). Kamu tetap bisa mendengarkan musik atau instruksi teman tanpa kehilangan kesadaran akan suara sekitar, seperti klakson mobil atau suara ban goweser lain. Komunikasi Grup Hingga 30 Orang Fitur utamanya adalah Intercom. Dengan bantuan aplikasi Cardo Connect, kamu bisa terhubung dengan hingga 30 goweser lainnya dalam satu jaringan. Sangat cocok untuk: Koordinasi rute saat touring. Memberi peringatan lubang (pothole) di depan. Mengatur strategi saat sedang latihan interval bersama tim. Kontrol Lewat Brifter Shimano Di2 Source lazersport.com Ini fitur yang paling disukai tim MauGowes! Jika kamu menggunakan Shimano Di2 atau E-Bike Shimano STEPS, kamu bisa mengatur volume, mengganti lagu, hingga melakukan mute/unmute langsung melalui tombol di brifter. Tangan tetap di dropbar, mata tetap ke jalan. Berikut step penggunaan Lazer Velofox dan Shimano Di2 Nyalakan Shiomano Di2 system terlebih dahulu. Pairing dengan Lazer Velovox dengan press 2 tombol di sebelah kiri secara bersamaan, dan terkoneksi dengan cepat. Sisanya tinggal setup tombol dan fungsional yang ingin kamu gunakan, semuanya bisa menggunakan Aplikasi Shimano Di2. Panduan lengkapnya bisa cek di https://www.youtube.com/watch?v=i-cSJQ86AfA . Jika kamu tidak memilki Shimano Di2 tidak usah khawatir, Lazer Velovox masih bisa digunakan dengan lengkap, tentunya menggunakan tombol yang ada di di devicenya. Ringan dan Tahan Cuaca Satu unit VeloVox hanya berbobot 19 gram per sisi. Tidak akan terasa membebani helm kesayanganmu. Selain itu, sudah memiliki sertifikasi IP54, jadi tidak perlu panik kalau tiba-tiba gowes kehujanan atau berdebu. Spesifikasi Teknis Lazer Velovox Baterai: Tahan hingga 11 Jam (Cukup untuk gowes Gran Fondo). Koneksi: Bluetooth via Smartphone (Membutuhkan sinyal seluler). Jangkauan: Hingga 1 km (kondisi tanpa hambatan). Charging: USB-C (Sudah kekinian!). Kesimpulan Lazer VeloVox adalah game changer bagi komunitas yang suka gowes bareng namun tetap ingin terhubung secara digital tanpa mengorbankan keamanan. Dengan harga di kisaran €160 (sekitar Rp2,7 jutaan), ini adalah investasi menarik untuk meningkatkan pengalaman bersepeda kamu.
13 hari yang lalu
378 views
Pasar sepeda balap Indonesia kembali dikejutkan dengan kehadiran Camp SR3 SI. Di saat brand lain berlomba-lomba di segmen carbon, Camp justru menghadirkan sepeda berbahan Alloy yang sudah mengantongi sertifikasi UCI Approved dan menggunakan sistem Full Internal Cable Routing.Apa saja keunggulan dan kekurangannya? Mari kita bedah secara teknis. Membedah Arti Nama: SR3 dan SI Source Image Instagram @campbikeid Sepeda ini serinya dalah Camp SR3 SI, Nama dalam sebuah seri sepeda biasanya mewakili identitas teknisnya: SR3: Merupakan kode seri Road Performance dari Camp. Angka "3" biasanya menunjukkan tier atau level spesifikasi di dalam ekosistem Camp. SI: Berbeda dengan anggapan umum, kode SI pada seri SR3 kali ini bukanlah singkatan dari System Integration, melainkan Special Indonesia. Maknanya: Ini adalah batch produksi atau varian khusus yang dirancang dan dirilis hanya untuk pasar Indonesia. Yang artinya untuk sepeda-sepeda yang di eksport oleh Camp tidak akan ada embel-embel SInya. Camp nampaknya melihat potensi besar di komunitas balap kita, sehingga mereka memberikan spesifikasi dan penamaan khusus yang mungkin tidak ditemukan di negara lain. Sertifikasi UCI Approved: Siap Balap! Salah satu nilai jual utama dari Camp SR3 SI adalah adanya logo UCI Approved. Source Image Instagram @campbikeid Standar Dunia: Artinya, geometri dan desain frame ini sudah lolos uji standar Union Cycliste Internationale (UCI). Legalitas: Bagi kamu yang ingin terjun ke ajang balap resmi (nasional maupun internasional), sepeda ini sudah sah dan legal digunakan. Mendapatkan sertifikat UCI untuk frame berbahan alloy dengan harga terjangkau adalah pencapaian yang luar biasa dari Camp. Material Alloy 6061, Full Internal Cable & Sambungan Sangat Smooth Seperti Frame Carbon Meskipun berbahan aluminium, tampilannya sangat jauh dari kesan "sepeda murah": Alloy 6061: Menggunakan material aluminium seri 6061 yang terkenal kuat namun tetap ringan. Full Internal Routing: Walaupun arti "SI" adalah Special Indonesia, secara teknis sepeda ini tetap mengadopsi sistem integrasi kabel penuh. Tidak ada kabel yang melintang di luar, memberikan estetika yang sangat bersih dan aerodinamis mirip sepeda karbon kelas atas. Smooth Welding: Sambungan las yang sangat halus membuat banyak orang sering terkecoh dan mengira ini adalah frame karbon. Spesifikasi dan Harga Camp SR3 SI Seri: Camp SR3 SI (Special Indonesia) Frame: Alloy 6061 Lightweight - UCI Approved Fork: Carbon Kabel: Full Internal Cable Routing Groupset: Sensah Empire (Varian Lokal) Harga Estimasi: Rp 8.000.000 - Rp 9.000.000 Pilihan Warna Camp SR3 SI Hal seri lainnya adalah, Camp menyediakan banyak opsi warna untuk Camp SR3 SI ini, silahkan pilih antara : White Beige Yellow Pink Red Black Kesimpulan MauGowes Hadirnya Camp SR3 SI (Special Indonesia) membuktikan bahwa pabrikan besar mulai memberikan perhatian lebih kepada kebutuhan spesifik pasar Indonesia. Dengan harga di bawah 10 juta, kamu sudah mendapatkan frame UCI Approved dengan tampilan super rapi. Ini adalah pilihan paling "legit" bagi pemula yang serius ingin menekuni hobi road bike. Postingan seputar Camp SR3 SI ini bisa di Instagram Camp Indonesia https://www.instagram.com/p/DTehSRWCVjY/?hl=en
sebulan yang lalu
437 views
Polygon Strada adalah sepeda MTB XC dari Polygon, di keluar terbaru memakai frame dari Alloy, namun mundur di keluaran 2004, terbuat dari stell, dari pemilik sepeda "Bale Lettuce Hydroponics", restorasi Strada 2004 dan memoles hingga full chrome. MauGowes telah mendapatkan izin pemilik sepeda untuk memposting sepeda ini di bikecheck MauGowes. Polygon Strada 2004 Generasi Pertama Sumber Facebook FJB Berikut adalah penampakan dari Polygon Strada generasi pertama yang turun pada tahun 2024. Dari warna dasarnya sudah terlihat warna chrome yang menjadi bekal untuk di poles agar makin mengkilap, tinggal menghilangkan stripingnya. Hasil Polesan Full Chrome Polygon Strada 2024 Berikut adalah hasil polesan pemilik sepeda "Bale Lettuce Hydroponics", menjadi sepeda ini full chrome mengkilap dan makin terlihat classic. Ada beberapa ubahan yang dilakukan pemilik sepeda, salah satunya ada di pengkabelan, warna dibuat gray agar lebih terlihat monochrome. Pemilik sepeda mengganti crankset ke Strummer 40t single chainring dengan warna chrome juga agar makin seragam dengan frame. Rotor juga diganti lebih besar agar memberikan peforma pengereman lebih baik juga agar terlihat lebih kekar. Dan Berikut adalah tampilan lengkap setelah Strada 2004 ini dipoles menjadi full chrome.
3 bulan yang lalu
575 views
Marika Nurmagita seorang cyclist yang sering memposting aktivitas sepedanya di Instagram, dan memiliki banyak follower, yang menarik adalah sepeda yang digunakan baik ketika gowes dalam kota (Jakarta) hingga mengikuti race atau event-event tempat lain menggunakan sepeda yang sama, dan beliau juga sering memecahkan KOM Strava hingga masuk podium loh dengan sepeda tersebut, jadi penasaran mari kita bahas spesifikasi sepeda yang dipakai Marika Nurmagita. Frame Cervelo R5 Disc All Black Credit by Instagram @marikxx Oh ya untuk disclamimer postigan ini dibuat Maret 2023, ada kemungkinan jika kamu baca di waktu-waktu kedepannya, sepeda yang digunakan Marika sudah berbeda dari postingan ini. Berikut adalah sepeda dari Marika, yakni dengan Frame dari Cervelo R5 Disc. Jika kita memutar history, terlihat Marika pertama kali post sepeda ini di Instagramnya pada 30 Maret 2019, yang mana hampir 4 tahun saat postingan ini dibuat, berikut postingannya. Credit by Instagram @marikxx Kamu bisa mengunjungi postingannya di link berikut https://www.instagram.com/p/BvnieZonM2i/ . Sebelumnya Marika juga menggunakan brand dari Cervelo juga, yakni Cervelo S3 Credit by Instagram @marikxx Yang mana sesungguh, Cervelo seri S lebih cocok untuk sprint, terlihat dari desainnya dengan tubing yang pipih dan besar-besar, dan seri R lebih ke climbing atau all round bike. Sepertinya pemilihan Cervelo R5 ini agar Marika lebih dinamis untuk gowes di berbagai jenis rute. Dan untuk frame yang digunakan Marika adalah Cervelo R5 disc 2019. Wheelset FFWD RYOT dan Ban Tubeless Terlihat sejak 22 Maret 2021 Marika memposting mendapatkan sponsor baru untuk wheelsetnya, yakni dari FFWD menggunakan FFWD RYOT dan masih terpakai hingga postnigan ini dibuat, dari profilenya terlihat menggunakan 50mm atau 55mm. Link sumber https://www.instagram.com/p/CMuEZJUMF-A/ . Mari kita anggap wheelset yang dipilih Marika adalah FFED RYOT 55mm, berikut harga dan spesifikasinya dari web official. Source: https://www.ffwdwheels.com/products/ryot-55 Dari setup bannya, terlihat Marika memilih menggunakan ban tubeless, less presure more comfort, mungkin karena itu juga. Disamping itu kalo nambal juga lebih gampang sih, kalo lubang kecil langsung tertambal sealant, kalo lubang besar bisa pada plug kit. Hanya saja merek dan seri ban yang digunakan kami belum bisa mengecek, karena belum menemukan foto yang zoom in ke arah sana. Groupset Ultegra Di2 R8170 Credit by Instagram @marikxx Sekarang mari kita bicara groupset, yang dipilih beliau adalah Shimano Ultegra R8070 DI2, fullset. Keunggulan dari groupset electronic adalah shiftingnya yang presisi dan cepat, kami juga suka groupset cnit-cnit seperti ini. Yups kurang lebih seperti itulah spesifikasi sepeda yang saat ini dipakai oleh Marika, untuk detail-detail lain juga kami mendapatkan infonya, akan kami update postingan ini, terimakasih.
3 tahun yang lalu
1.71K views
DIMS Bike adalah bengkel sepeda di Yogyakarta, yang banyak membuat karya untuk konversi sepeda yang routing cablenya masih di luar menjadi full internal, alias clean look. Karya terbaru saat ini adalah Polygon Path 4, sepeda urban Polygon yang menggunakan flatbar dan cable luar, di konversi menjadi full cable dalam dan di tambah dropbar, mari kita lihat lebih dekat. MauGowes telah mendapatkan izin untuk menggunakan gambar dan memposting di maugowes.com dari DIMS Bike. Versi Original Polygon Path 4 Sumber polygonbikes.com Ini adalah versi asli dari Polygon Path 4, dengan handlebar flat dan caliper menggunakan postmount, serta masih single chainring. Jika kita lihat, cable routing dari Polygon Path ini ada disisi samping dari downtube, lalu lanjut ke chainstay untuk rd dan caliper belakang, untuk caliper depan routing melalui fork. Hasil Konversi Polygon Path ke Clean Look dari Dims Bike Sumber instagram @dimsbike.yk Dan berikut adalah hasil dari tangan Dims Bike, ada beberapa part yang diganti untuk mendukung desain clean look. Seperti : Groupset menggunakan Shimano Tiagra 4700, yang otomatis caliper diganti flat mount, sehingga lebih rapi Saddle, untuk saddle kami belum mengetahui merek dan seri yang digunakan. Integrated handlerbar dari Tooseek membuat tampilan clean looknya lebih garang dan lebih enak untuk perjalanan jau Sumber instagram @dimsbike.yk Salah satu yang menjadi kunci dari suksesnya project konversi ke clean look ini adalah part ini. Part headset yang memungkinkan menggunakan bearing besar di headset bagian atas, biasanya ukuran 52mm untuk diameter, sehingga memungkinkan cable bisa masuk semua kedalam headset dan headtube, dan kemungkinan dilanjutkan ke frame hingga di titik akhir dari cable. Karena tidak ada cable yang masuk di lubang routing, maka PR berikutnya adalah menutup lubang tersebut. Dims Bike juga ada solusi untuk itu, lihat saja gambar diatas. Penutup cable routingnya terbuat dari karet dan cukup rapi. Jika minat konversi sepeda kamu ke clean look, kontak saja Dims Bike di Instagram @dimsbike.yk, pastikan sepeda kamu support terlebih dahulu sebelum kirim-kirim.
3 bulan yang lalu
414 views
Juss Moe adalah kedai jus buah yang ada di Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. Yang menarik adalah, untuk bisa menikmati jus yang kita beli, kita harus gowes dulu, baru jus akan jadi dan siap diminum. Lokasi Juss Moe Juss Moe berlokasi di Kec. Seyegan , Kab, Sleman, DI. Yogyakarta. Seyegan sendiri juga merupakan salah satu lokasi favorit goweser yang mana jalurnya kanan adalah sawah hijau yang memanjakan mata. Jika terus kebarat akan tembus Magelang. MauGowes sendiri pernah membuat video POV gowes di jalur Seyegan, bisa cek di link youtube berikut ini. Menu Di Juss Moe Berikut adalah daftar menu di Juss Moe yang kami dapatkan di Google Maps. Jus untuk berbagai macam buah, smoothie hingga es krim kelapa muda. Dan ada beberapa menu makan pendamping dan tak kalah banyak opsinya. Wahana Juicer Yang Harus Di Gowes Untuk Menggunakannya Yang bikin kami penasaran kesini, berkat postingan Instagram @kulinerjogya , berisi gambar mbak-mbak sedang gowes untuk memutar blender. Nah itu adalah salah satu wahana yang disediakan Juss Moe. Tidak semua jus dibuat dengan cara tersebut, bayangkan antriannya :). Jika berminat, kamu bisa order dan memastikan wahana sepeda juicer sedang tidak di pakai. Cukup gowes sekuat tenaga, akan membantu membuat copper yang ada di dalam mug blender. Gowes terus dan terus hingga akhirnya jus kamu jadi dan siap disajikan. Sumber https://www.instagram.com/jus_buahasli/ https://www.instagram.com/kulinerjogya
4 bulan yang lalu
1.03K views
Giant TCX adalah varian Cycloross dan Gravel Bike untuk peformance. Bahkan jauh sebelum era gravel bike booming, Giant TCX sudah lama hadir dengan berbagi opsi kaliper rim brakesnya , dari Cantilever hingga doube pivot dan semua support untuk ban besar. Giant TCX ini adalah milik Mr Jovan. Giant TCX Model 2010 (Size S/51) yang telah dimodifikasi secara total untuk performa maksimal. Sekilas Pandang Source Facebook "Gregorius Jovan Kresnadi" Frameset menggunakan sloping geometry khas Giant TCX dengan toptube yang agak turun . Yang paling penting, frame ini masih menggunakan rem mini v-brake (seperti yang terlihat pada spesifikasi jual-beli sebelumnya: TRP CX 8.4). Giant mulai beralih sepenuhnya ke rem cakram (disc brakes) pada model TCX Advanced Pro sejak 2014, meskipun beberapa varian SLR masih menggunakan cantilever hingga sekitar tahun 2016. Frame menggunakan material aluminium ALUXX SLR, yang ringan dan kuat melibas jalur offroad. Source Facebook "Gregorius Jovan Kresnadi" Routing cable seri Giant TCX ini full external, dan yang menarik setup cablenya full inner dan outer dari depan hingga belakang, hal ini sangat memudahkan untuk instalasi, mengurangi proses-proses mengukur kabel agar presisi, dibanding kombinasi routing yang hanya ada inner aja di bagian tengah frame. Spesifikasi dan Modifikasi Source Facebook "Gregorius Jovan Kresnadi" Nampak pemilik sepeda telah melakukan banyak upgrade di Giant TCX ini. Menggunakan setup 1x dengan ban 700x37c untuk dengan desain ban cocok untuk hard dan medium gravel. Sepertinya pemilik masih suka ngebut di aspal dan main di gravel tapi tidak sampai gravel extrem yang sampai teknikal. Berikut spesifikasi dari Giant TCX milik Jovan. Brake Lever: Shimano 105 2x11 speed RD: GRX 810 Cassette: Shimano XT 11-42 FD: N/A, 1x drivetrain Crank: Praxxis Works Chainring: Deckas 36t BB: Praxxis Works Pedal: Ritchey Paradigm MTB Rims: H Plus Son Archetype 32h Hubs: Rollcii RC11 Tires: WTB Riddler Tanwall 700x37c Handlebar: Spank Vibrocore 42cm Bartape: Burgh Stem: 3T 90mm 6 derajat Seatpost: Thomson Seatback 30.9 Saddle: Fizik Antares Brakeset: TRP CX 8.4 Disamping itu ada modifikasi tambahan eyelet untuk bottle cage di bawah downtube & seattube, membuat kamu bisa menambah extra storage di bagian sini, dengan memasang bottle cage atau extra tas. Sepeda ini dijual, jika minat silahkan cek link berikut di Group Facebook GX.id
5 bulan yang lalu
601 views
Di dunia sepeda, kita sering melihat pesepeda profesional dengan perlengkapan super canggih menaklukkan trek terjal dan berbahaya. Namun, di Indonesia, ada sebuah fenomena unik yang menunjukkan bahwa semangat petualangan tidak selalu bergantung pada sepeda mahal. Fenomena itu dikenal dengan "Jobike". Aksi yang viral di media sosial ini melibatkan seorang pemuda yang berani menuruni jalur downhill dengan sepeda anak-anak. Video ini langsung menjadi sensasi karena kontras yang ekstrem antara medan yang menantang dan sepeda yang terlihat sangat tidak cocok untuk aksi tersebut. Sepeda Anak-Anak Untuk Downhill Sepeda yang digunakan Jo Bike dan kawan-kawannya menggunakan sepeda anak-anak, yang sepertinya sudah di modif agar lebih aman untuk turunan dengan ban besar dan wheelset yang lebih proper. Untuk pengereman, sepertinya tidak banyak perubahan, bahkan dalam beberapa video terlihat hanya menggunakan rem depan saja. Siapa di Balik Jobike? Aktor di balik aksi ini adalah seorang pemuda bernama Yana Haikal dari Sukabumi, Jawa Barat. Ia bukan pesepeda amatir biasa. Yana dikenal di komunitasnya sebagai sosok yang berani mencoba hal-hal ekstrem dan unik dengan sepedanya. Namun, aksi dengan sepeda mainan ini benar-benar membawa namanya ke tingkat yang lebih luas. Video yang beredar menunjukkan Yana dengan santai menuruni turunan curam, melompat di atas gundukan, dan bermanuver seolah-olah ia sedang mengendarai sepeda downhill profesional. Hal yang paling mencengangkan adalah sepeda yang ia gunakan adalah sepeda khusus anak-anak yang hanya dilengkapi dengan rem sederhana dan ban kecil. Meskipun Asyik ada Risiko Mengintai, Tetap Hati-Hati Meski terlihat menyenangkan tentu aksi ini bisa rawan risiko jika tidak hati-hati. Untuk ini Jo Bike dan kawan-kawan menggunakan gear yang proper, baju tebal, helm , sepatu dan lainnya. Dalam bebeapa video POV di Instagram dan Youtube Jo Bike nampak juga beberapa adegan crashnya. So far berkat gear yang proper semua aman-aman dan melanjutkan kembali descendingnya. Membawa Sepeda Dengan Di Panggul Untuk menuju keatas, para goweser ini membawa sepeda dengan di Panggul. Berkat ukurannya yang minimalis, tentu beratnya tidak seberat menggotong sepeda downhill. Melihat Sepeda Lebih Dekat Berikut jika kita lebih dekat sepeda yang digunakan Jo Bike dan kawan-kawan untuk menuruni lembah, tidak banyak perubahan, hanya ban yang terlihat lebih besar agar nyaman di jalanan tidak rata. Kesimpulan Tentu saja, aksi seperti ini juga datang dengan risiko. Bersepeda di medan yang tidak rata dengan sepeda yang tidak didesain untuk itu sangatlah berbahaya. Sepeda anak-anak tidak memiliki kekuatan struktural yang cukup untuk menahan beban dan guncangan dari jalur downhill, sehingga risiko kerusakan dan cedera sangat tinggi. Ini sebabnya, aksi seperti ini sebaiknya tidak ditiru tanpa pengetahuan dan keahlian yang memadai. Yana Haikal, sebagai seorang pesepeda berpengalaman, tahu betul batasan-batasan yang ia hadapi dan mengambil risiko yang terukur. Sebagai penutup, fenomena Jobike adalah bukti nyata bahwa semangat bersepeda bisa datang dari mana saja. Kisah Yana Haikal dan sepeda mainannya mengingatkan kita bahwa yang terpenting dalam bersepeda adalah hasrat untuk mengayuh dan keberanian untuk menaklukkan tantangan. Ini adalah sebuah kisah tentang kreativitas, keberanian, dan semangat yang layak kita angkat di Maugowes.com. Silahkan kunjungi sosial media Jo Bike untuk menikmati aksi-aksinya: Youtube: Jo Bike Instagram: @jobikeofficial
5 bulan yang lalu
715 views