Blog

Berbagi cerita seputar dunia sepeda

Menampilkan 9 dari 150 post

Membandingkan Butyl dan TPU Inner Tube Dengan Speed Sama Apakah Power Beda

Kami telah melakukan pengecekan dengan ban clicher dengan dua macam inner tube yang berbeda, yakni untuk Butyl dan TPU. Untuk mengetahui lebih jauh seputar perbedaan 2 macam inner tube tersebut, bisa dibaca lebih lengkap di postingan berikut "Opsi Upgrade Inner Tube Untuk Ban Clincher" . Dengan speed yang sama kami mencoba di 2 macam rute yakni flat dan tanjakan, dengan averagespeed yang sama kami cek apakah power yang digunakan TPU lebih sedikit dari butyl atau bahkan sebaliknya. Di segment ini kami mejaga avg speed 30km/h. Perangkat Pengetesan Disclaimer untuk pengetesan kali ini bisa berbeda sesuai dengan perangkat, rider dan lokasi test. Bike : Elves Quendi Disc + Ultegra R8000 + Elite ENT Disc 50mm Tire : Pireli P-Zero Velo 25mm Inner Tube : Kenda Tube (Butyl), PZero Smartube (TPU) Rute Pengetesan Flat Nama Segment: Pasar Sidorejo Baru to Tugu Seloaji Kledokan Sebenarnya rute ini tidak terlalu flat karena ada tanjakan dan turunan sampai 2% jadi agak sulit untuk menjaga speed. Segment bisa di cek di https://www.strava.com/segments/32822731. Climb Nama Segment: Jembatan Tunjungan Short Climb Tidak panjang, dengan avg gradient 2.6%, kami menjaga agar avg speed di segment ini 20Km/h. Hasil Pengetesan Untuk memastikan kondisi badan yang sama, kami melakukan pengetesan di hari yang berbeda dengan jam yang sama, kebetulan 2 segment tersebut terbilang sepi sebelum jam 6:30am. Dan berikut adalah hasil akhirnya. Di rute flat, avg speed 31km/h, butyl memerlukan 156watt dan TPU memerlukan 144watt, TPU lebih hemat 12watt. Rute climb, avg speed 20km/h, butyl memerlukan 190watt dan TOU memerlukan 182watt, TPU lebih hemat 12watt. Menarik juga power yang di hemat sama-sama 12watt, tapi ini pasti hanya kebetulan saja, dan kesimpulannya memang benar TPU lebih hemat power dengan avg speed yang sama daripada butyl, yang mengartikan juga rolling resistance TPU lebih kecil daripada butyl tube. - yusan

2 hari yang laluyussan . 30 views

Kenapa Pro Banyak Menggunakan Dirrect Mount Rear Derailleur Hanger

Dirrect mount rd (rear derailleur) hanger memiliki banyak kelebihan di banding rd hanger yang biasa kita temukan dengan b2 link, yakni untuk shifting yang lebih tepat / precise shifting, berikut penjelasannya. Perbedaan RD Hanger Biasa dengan Dirrect Mount Credit by weightweenies.starbike.com Gambar diatas adalah sample rd hanger yang biasa kita termukan di sepeda kebanyakan. dari Frame terpasang RD Hanger, untuk kemudian ada B2 link baru terpasang ke rear derailleur. Yang membedakan dengan dirrect mount adalah, dari frame, rd hanger akan langsung terhubung ke rear direilleur, tanpa b2 link, berikut gambarnya. Credit by weightweenies.starbike.com Keunggulan Dirrect Mount RD Hanger Lebih Ringan tapi Lebih Kuat Keunggulan pertama yang kita dapatkan tentu dari segi beratnya yang banyak berkurang, karena bukan rahasia lagi part yang bergerak akan lebih berat daripada part yang diam. Lebih Stiff sehingga Shifting Lebih Presisi Pernahkah mengalami ketiks shifting gear baik ringan atau besar, kelebihan beberapa gir atau bahkan tidak bergerak ke gear sesuai ekspetasi?, hal itu akan minim dialami ketika menggunakan dirrect mount rd hanger ini, apalagi di kombinasikan dengan electronic shifting membuat tingkat kepresisiannya mendekati 100%. Lebih Gampang Mengganti Roda Belakang Pernah melihat bagaiamana cepat mekanik di pro peloton mengganti roda belakang sepeda, salah satu hal yang membantu adalah penggunan dirrect mount rd hanger ini, tentu karena ruang yang lebih banyak untuk pergerakan roda ketika dilepas. Menemukan Dirrect Mount RD Untuk Sepeda Saya Mencari dirrect mount rd hanger akan lebih mudah untuk kamu yang menggunakan brand-brand sepeda terkenal, sebagai contoh penulis mencari RD Hanger Dirrect Mount untuk Giant TCR dan mudah di temukan di Tokopedia. Jika tidak menemukan di marketplace, ada baiknya konsultasi terlebih dahulu di social media brand sepeda kamu, atau bisa buat custom di tempat-tempat pongrajin besi / custom made. - yussan Image Sources : https://weightweenies.starbike.com/

7 hari yang laluyussan . 47 views

Opsi Upgrade Inner Tube Untuk Ban Clincher

Ban Clicher untuk roadbike, saat ini masih banyak penggemar, mulai karena harganya yang lebih murah, mudah untuk perbaiki ketika ada bocor di jalan cukup ganti inner tube. Berikut salah satu opsi upgrade untuk ban clicher, dengan mengganti inner tube, berikut beberapa opsi yang bisa kamu pilih. Butyl Rubber Credit by alibaba.com Butyl rubber adalah opsi inner tube yang paling banyak di temukan untuk sepeda-sepeda yang masih menggunakan ban clicher. Bahkan penulis pernah menggunakan inner tube Kenda, tapi lupa serinya, dengan harga Rp 25.000, bisa tahan sampai lebih 10000km, kebetulan main aman di aspal mulus, jadi belum pernah kena puncture. Opsi inner tube ini memiliki bobot paling berat, untuk sample produk kenda diatas 199gr. Butyl sendiri bisa dibilang memiliki rolling resistance paling tinggi dari pada jenis lainnya. Makin rendah rolling resistance berarti kualitas inner tube makin bagus, rolling resistance tinggi artinya, dengan speed yang sama, butyl innertube memerlukan power paling tinggi, dari jenis-jenis inner tube lain. Latex Tube Credit by vittoria.com Inner tube dengan bobot ringan dan harga cukup murah adalah latex, namun latex ini dikalangan pesepeda memiliki komentar yang buruk di mata pengguna sepeda, yaitu mudah pecah, tapi mungkin karena yang mereka gunakan adalah merek yang kurang terkenal. Kebanyakan latex memiliki warna khas yakni pink dengan finishing matte color, khas warna karet. Ukuran dari inner tube ini, sedikit lebih kecil dari pada butyl, dan tentu lebih ringan, untuk sample produk diatas Vittoria Competition Inner Tube Latex, beratnya 75gram , dan harga yang ditawarkan sekitar Rp 200.000,-. Untuk rolling resistance berada di antara inner tube Butyl dan TPU. TPU (Thermoplastic Polyurethane) Credit by Pirelli.com Opsi terakhir adalah TPU (Thermoplastic Polyurethane), opsi paling ringan, rolling resistance paling rendah, ukuran paling minimalis, dan diinfokan juga bahan TPU lebih lama menahan angin di dalam ban agar tidak cepat kempis Sample produk yang tampilkan di atas dari Pirelli, untuk varian Pirelli Pzero Smartube, beratnya hanya 35g dan ukurannya ringkas. Cocok untuk kamu yang ingin simpan weight dari Butyl sekaligus mengurangi rolling resistance.  Hanya harga yang ditawarkan lebih mahal dari inner tube biasa, untuk Pirelli Pzero Smartube rata-rata Rp 550.000,- di marketplace Indonesia, namun sepadan dengan hasil yang didapat.

14 hari yang laluyussan . 71 views

Bontrager Ion and Flare RT Sebuah Lampu Yang Bisa Di Kontrol dari Cyclocomp

Seputar Bontarger ion and flare RT Bontrager Ion adalah varian front lamp / lampu depan dari Bontrager, yang memiliki bentuk minimalis dan mounting khusus yang memungkinkan di pasang di beberapa bagian di sepeda kamu. Bontrager Ion ditujukan untuk lampu depan, dan Bontrager flare ditujukan untuk lampu belakang. Ada beberapa varian untuk Bontrager Flare dan Ion ini, ada City, RT dan beberapa varian lainnya. Untuk varian RT adalah varian khusus yang bisa memungkinkan lampu ini untuk dikoneksikan dengan cyclocomp dan memungkinkan kita untuk mengontrolnya melalui cyclocomp. Karena fitur itu harga yang di tawarkan juga cukup tinggi, untuk varian Bontrager 200 RT/Flare RT satu set seharga USD 119.99 atau Rp 1,779,451.70. Control Lampu Bontrager RT dari Cyclocomp Untuk sample di bagian ini, kami menggunakan Garmin Edge, produk cyclocomp dari Garmin. Cara koneknya juga cukup gampang, mirip dengan bagaiman kamu mengkoneksikan sensor ke cyclocomp. Di lansir dari support page Garmin . Kamu juga bisa m enginstall Bontrager Light Control Connect IQ app, dan memastiakn device Garmin Edge kamu support dengan connect iq ini, bisa di cek di bagian deskripsi. Credit by https://www.trekbikes.com Fungsi control di Cyclocomp mirip dengan tombol fisik yang ada di lampu Bontrager RT. Seperti untuk On/Off, dan mengganti mode sesuai yang di support oleh varian lampu yang kamu gunakan. Hal penting lainnya adalah bateray indicator, melalui fitur remote ini, bisa di lihat secara lebih jelas dan realtime sisa power saat ini. Sources: Image source tokopedia.com

15 hari yang laluyussan . 95 views

Magene T200 Smart Trainer Termurah Saat Ini

Magene terkenal membuat memberapa produk trainer hingga smart trainer namun dengan harga yang terjangkau. Dan produk smart trainer terbaru mereka adalah Magene T200 smart trainer yang sudah bisa didapat sejak harga 6 juta rupiah, sangat murah dibandingkan smart trainer kebanyakan yang memiliki harga sejak 10 jutaan rupiah. Desain and Features Memilki desain yang mirip sekali dengan Magene T100, yang merupakan power trainer biasa bukan smart trainer, Magene bilang desain ini adalah mengikuti desain klasi dari Magene Gravat Series. kemungkinan masih menggunakan konstruksi yang sama, hal ini juga membantu mengurangi biaya RnD, sehingga harga produk ini masih terbilang murah. Magene T100 Power Trainer Kami pernah membuat postingan seputar Magene T100, bisa dibaca disini . Magene claim bahwa power meter yang digunakan memiliki tingkat akurasi 2.5%, dan support ERG Mode hingga maksimal power 1800 Watts. Mode ERG adalah mode auto berat atau ringan ketika menggunakan smart trainer untuk virtual cycling, bertujuan untuk simulasi kemiringan ketika menanjak atau turunan. Hub yang digunakan support untuk quick release rim brake hingga thru axle disc brake 12x142mm dan 12x148mm. Kompatibel dengan Shimano / SRAM 8/9/10/11-speed cassetes. Untuk XDR 12-speed cassetes perlu membeli hub terpisah. Ciri khas dari smart trainer dengan dirrect drives adalah sangat silent, Magene claim >56DB untuk penggunakan 1.5M dan speed 30KM/jam. Ketika dilipat, trainer ini bisa sampai 21 cm untuk panjangnya, sehingga mudah untuk disimpan di sela-sela lemari pakaian kamu. Harga Di Marketplace Indonesia Hasil pencarian kami di Tokopedia, dengan filter keyword "Magene T200" dan official store, menemukan produk ini mulai harga Rp 6.000.000, kamu juga bisa kunjungi melalui Tokopedia link berikut .  Spesifikasi Weight 13.6kg Power Accuracy ±2.5% Maximum Power 1,800W Simulated Maximum Gradient 15% Noise Level 56dB (@1.5m & 30KPH) Moment of Inertia 50,000kg*mm² Wireless Interface Ant+ / Bluetooth Expanded Size 600*500*460mm Folded Size: 600*250*520mm Intelligent Resistance Adjustment FE-C protocol Power Assist Spindown, temperature compensation Compatibility Compatible Cassette Shimano/Sram 8 ~ 11 speed cassettes, Sram XDR 12-speed cassettes(Freehub sold separately) Frame Compatibility 130/135mm quick release, 12*142mm/12*148mm thru-axle Source: https://www.magenefitness.com/product_t200.html

17 hari yang laluyussan . 81 views

Zwift Hadir Dengan Produk Smart Trainer Zwift:Hub

Sebagai salah satu produsen paling populer untuk virtual training, baik bersepeda atau lari, Zwift menghadirkan produk terbaru mereka yang cukup bikin kaget, yakni sebuah smart trainer bernama Zwift:Hub. Mulai dari 499USD Smart trainer biasanya kita bisa dapatkan dengan harga cukup mahal mulai dari 10 jutaan rupiah dan opsi lainnya bisa lebih mahal, Zwift menawarkan smart trainer ini mulai dari harga 499USD, atau jika dirupiahkan saat ini sekitar Rp7.4 juta, harga bisa berbeda-beda juga tergantung opsi custom yang disediakan zwift. Zwift:Hub Design Menggunakan desain dengan 2 kaki T untuk menjaga sisi depan dan belakang, dengan kaki yang lebih besar di sisi depannya. Disamping itu ada corak dengan warna khas zwift, biru muda dan orange di kaki-kakinya, dan logo zwift di sisi samping kanan dan kiri. Konstruksi seperti sangat umum di temukan di beberapa smart trainer, seperti Jet Black Volt, Magene t200, KICKR Core dan masih banyak lagi. Populer tentu karena konstruksi ini terkenal solid, dan ketika di lipat bisa sangat hemat ruangan. Spesifikasi Size and Weight Length: 49.7 cm / 19.5 in Width: 61.2 cm / 24 in Height: 46.1 cm / 18.1 in Weight: 16.5 kg / 36.4lb Performance and Data Power accuracy: +/- 2.5% Max wattage: 1800W Max gradient simulation: 16% Flywheel weight: 4.7 kg / 10.3lbs Metrics: Power, cadence, speed, & distance Connectivity Transmits measured data using both Bluetooth FTMS and ANT+ FE-C Accepts control data using either of Bluetooth FTMS and ANT+ FE-C Can connect to a ANT+ heart rate monitor and relay data via Bluetooth LED status light shows ANT+ and Bluetooth connection status Over the air Firmware updates via Bluetooth using Zwift Companion App Compatibility Wheel Sizes: Compatible with 650c, 700c, 24", 26", 27.5", 29", Road and MTB wheels Axles: Compatible with 130 mm and 135 mm quick release, 12x142 mm and 12x148 mm thru axles Freehub body:Hyperglide Additional Specs Maximum rider weight: 120 kg / 264.5 lb Sound: 52 db at 250 watts Operating temperatures: -10 C to +35 C (14 F to 95 F) Power requirements: 100-240 V, 1.5 A, 50 Hz-60 Hz Preinstalled cassette gear ratios 12 speed option: 11-30 tooth 8, 9, 10 & 11 speed options: 11-28 tooth - yussan Source: https://us.zwift.com/pages/zwift-hub

17 hari yang laluyussan . 72 views

Polygon Rilis Sepeda Gravel Baru Polygon Path X

Beberapa saat kemarin ketika cek polygonbikes.com, terlihat postingan yang cukup menarik, yakni hadirnya line sepeda gravel baru dari Polygon, hanya saja tidak masuk line Polygon Bend, melainkan Polygon Path, dan inilah Polygon Path X. Harga & Spesifikasi Sebelum membahas seputar framenya, kami bahas terlebih dahulu seputar 2 varian yang dirilis Polygon, yakni Polygon Path X4 dan Polygon Path X5 Yang membedakan antara keduanya adalah warna dari Path X4 adalah cream dengan corak hitam dia forknya, sedangkan Path X5 hadir dengan warna Hijau metalik gelap dengan corak hitam di forknya. Polygon Path X4 harga resmin ketika rilis adalah Rp 12.000.000, hadir dengan Shimano Tiagra 2x11 speed, dan mechanical disc brake dengan caliper dari Tektro MD-C550. Untuk Polygon Path X5 harga resmi ketika rilis adalah Rp 17.000.000, hadir dengan Shimano 105 R7020 dengan disc yang sudah full hidrolis. Frame and Parts Jika dilihat sekilas, frame ini mirip dengan Bend R2 atau Bend R5 yang rilis 2020/2021 lalu. Namun jika kita cek lebih dalam ada banyak perbedaannya. Flared Dropbar Ready Credit Instagram @polygonbikesid Hadir dengan flared drop bar sejak dari pabrik, opsi ini cocok untuk posisi yang narrow dengan berpegangan di sisi hood atau top, dan drop yang lebih lebar untuk menjaga kestabilitasan ketika melibas jalanan tidak rata di offroad. Gravel Ready Tires Support hingga 42mm untuk lebar ban, dengan wheelbase yang lebih panjang membuat sepeda ini lebih stabil. Fender/Carrier/Bottle Mount Ready Credit Instagram @polygonbikesid Sebagai sepeda untuk berpetualang, hadirnya fitur ini sangat penting, untuk menjaga agar suplay dan perbekalan kita tetap terjaga dengan memasang bag, pannier, hingga extra bottle cage di tempat yang telah di sediakan. Untuk membandingkan secara head-to-head spek Polygon Bend X4 dan Bend X5 bisa melalui link berikut ini https://maugowes.com/bikes/compare/6311d4a2387bc24f159ddb9c?ids=6311d4a2387bc24f159ddb9c%2C6311d4ed387bc24f159ddb9d

21 hari yang laluyussan . 368 views

Opsi Paddock Untuk Sepeda Dengan Thru Axle

Thru Axle as atau axle yang digunakan di kebanyakan sepeda saat ini yang menggunakan disc brake untuk sistem pengeremannya. Berbeda dengan qr(quick release) yang memiliki desain dengan tonjolah di sebelah sisi sampingnya, kebanyakan tru axle memilki desain samping yang flat bahkan as flat as frame, sehingga paddock yang biassa untuk qr tidak bisa digunakan di thru axle, berikut opsi paddock sepeda untuk thru axle yang bisa kamu gunakan. Paddock Jepit Khusus Thru Axle Memiliki desain yang mirip dengan paddock jepit yang biasa digunakan untuk qr, bedanya ukuran diameter yang lebih besar dan ada tambahan seperti jarum di tengahnya. Karena biasanya thru axle memiliki desain hollow, atau lubang di tengah-tengah merski diameter as lebih besar, tentu agar lebih ringan. Jarum ini akan dimasukan ke lubah di thru axle. Penulis sendiri pernah mencoba paddock jenis ini, dan aman ketika sepeda diam atau memutar crank dengan kecepatan rendah. Ketika simulasi memutar crank dengan cepat dan shifting kadang sepeda sering terlepas dari paddock ini alias kurang kokoh untuk setup-setup rd/fd. Paddock Model Pancing Desain paddock yang di tambahkan pengait untuk kemudian bagian seat stay dan chain stay sepeda disesuakan dengan posisi pengait tersebut. Paddock seperti ini tidak cocok untuk sepeda lipat yang bentuk chain stay dan seat stay berbeda dengan kebanyakan sepeda lain. Opsi paddock ini adalah yang paling kuat dari opsi yang ada di postingan ini, untuk melakukan setting fd/rd sambil di gowes dengan putaran tinggi. Paddock Untuk Full Ban Dari semua opsi paddock di postingan ini, paddock jenis ini yang menurut kami paling simple. Cukup taruh paddock di tempat yang diinginkan, untuk memarkir sepeda cukup memasukan salah satu ban depan atau belakang. Meski bisa terparkir dengan mudah dan cukup aman, posisi sepeda masih bisa bergeser ke kanan atau kekiri semisal ada guncangan, karena kosep paddock ini mirip dengan kamu menyandarkan sepeda ke tembok, hanya saja temboknya ada di 4 sisi, sehingga sepeda tidak akan jatuh. Paddock Untuk Full Band Model Jepit Paddock versi ini adalah penyermpurnaan dari paddock model full ban yang diatas, dengan sistem jepit maka sepeda kamu akan lebih kuat berdiri di paddockl tanpa takut bergerak ke berbagai arah.  Untuk beberapa paddock full ban model jepit ini ada beberapa masalah ketika proses pemasangan atau pelepasan, harus di bantu dengan kaki untuk menahan paddock agar tidak bergerak ketika sepeda di pasang dan dilepas. Sisanya aman, sepeda aman tak bergerak, serta frame tak perlu takut lecet seperti ketika menggunakan paddock model pancing. Topeak Bike Stand TW007 OPsi berikutnya datang dari Topeak, yakni sebuah bike stand yang diletakan di crank arm, namun sepertinya jika menggunakan pedal power meter seperti Favero Assioma Duo tidak bisa menggunakan bike stand jenis ini karena tidak muat. Tapi untuk pedal dari shimano, atau merek lain yang bautnya kecil sepertinya aman-aman saja. - yussan

sebulan yang laluyussan . 153 views

Chain Checker Sebuah Tool Untuk Memberi Tahu Saatnya Ganti Rantai Sepeda

Ketika sudah terlambat mengganti rantai, rantai yang sudah terlanjur renggang bisa saja putus tiba-tiba dijalan, dan bisa membahayakan pengguna sepeda. Ada beberapa tanda-tanda rantai sudah mulai merenggang, namun ada sebuah alat, yakni "Chain Checker" untuk mengukur dan lebih yakin apakah saatnya ganti rantai. Tanda-Tanda Awal Rantai Sepeda Merenggang Sebelum terjadi putus di jalan, rantai yang sudah merenggang biasanya memberikan beberapa tanda-tanda, yang mana jika sudah mengalami tanda-tanda ini, pastkan tuk mulai check rantai kamu. Keluar Suara Berisik di Belakang dan Sering Shifting Sendiri Hal ini tidak semerta-merta karena rantai yang sudah merenggang ya, tapi bisa juga karena kesalahan seting rd. Nah untuk memastikan apakah rantai yang merenggang adalah penyebabnya, bisa kamu cek dengan chain checker ini. Chain Slap Terlalu Mudah Chain slap adalah kondisi ketika rantai kamu mengenai di bagian chainstay. Chain slap juga bisa ditemui di rantai yang masih bagus, namun penyebabnya bisa karena kuncangan yang cukup keras.  Untuk hail ini chain slap terjadi di kondisi apapun bahkan saat jalan mulus, yups karena rantai sudah merenggang sehingga ketegangannya kurang dan mudah untuk turun sehingga terjadi chain slap. Chain Checker Untuk chain checker yang ada di gambar atas adalah salah satu produk dari Parktool CC-3.2, ada 2 opsi pengecekan yang tersedia, yakni 0.5% dan 0.75%. Arti angka tersebut adalah berapa persen rantai kamu merenggang, angka di mana sebagian besar produsen rantai menyarankan penggantian. Cukup masukan pin di chain checker ini ke sela-sela rantai kamu, seperti pada gambar diatas, Jika kedua pin (depan dan belakang) masuk dengan lancar, artinya rantai kamu sudah merenggang dan saatnya ganti. Jika tidak masuk, atau hanya masuk sebagian, artinya rantai kamu belum merenggang ke angka yang ditunjukan oleh chain checker, mudah bukan. - yussan Image Credit: https://www.parktool.com/en-us/category/chain

2 bulan yang laluyussan . 125 views

TERIMAKASIH UNTUK

Terimakasih DomainesiaTerimakasih Digital Ocean